Sebuah tindakan pengambilan sperma langsung dari testis atau epididimis pada pria yang tidak bisa mengeluarkan sperma secara normal. Biasanya dilakukan sebagai bagian dari program bayi tabung (IVF/ICSI) atau rencana freezing sperma atas indikasi medis.
1. PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration)
Aspirasi sperma dari epididimis menggunakan jarum kecil tanpa sayatan. Kapan digunakan? Cocok untuk azoospermia obstruktif (saluran sperma tersumbat), misalnya:
- Riwayat vasektomi
- Infeksi saluran reproduksi
- Kelainan saluran bawaan (CBAVD)
Kelebihan:
- Tidak perlu pembedahan besar
- Prosedur cepat, pemulihan singkat
- Sering cukup untuk mendapatkan sperma motil
2. TESA (Testicular Sperm Aspiration)
Aspirasi sperma langsung dari jaringan testis menggunakan jarum. Kapan digunakan?
- Azoospermia obstruktif
- Azoospermia non-obstruktif ringan
- Bila PESA tidak berhasil mendapatkan sperma
Kelebihan:
- Minim invasif
- Dilakukan dengan bius lokal
3. MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration)
Pengambilan sperma dari epididimis dengan mikroskop operasi (mikrosurgery). Kapan digunakan?
- Khusus untuk azoospermia obstruktif dengan kebutuhan sperma kualitas tinggi
Kelebihan:
- Kualitas sperma biasanya lebih baik (lebih motil) dibanding PESA
- Cocok untuk pasangan yang ingin menyimpan sperma (cryopreservation)
- Performa sangat baik untuk ICSI
4. TESE (Testicular Sperm Extraction)
Biopsi testis dengan mengambil potongan jaringan untuk mencari spermatozoa. Digunakan terutama untuk:
- Azoospermia non-obstruktif (gangguan produksi sperma). Contoh:
- Klinefelter
- Varikokel berat
- Riwayat kemoterapi
- Gangguan hormonal berat
Kelebihan:
Peluang menemukan sperma pada kasus terberat Satu-satunya pilihan pada sebagian kasus non-obstruktif
Mengapa Prosedur Ini Penting?
- Pada pria yang spermanya sulit atau tidak mungkin keluar saat ejakulasi, tindakan ini:
- Menyediakan sperma untuk ICSI (bayi tabung)
- Meningkatkan peluang keberhasilan kehamilan
- Bisa mengambil sampel untuk mengevaluasi fungsi testis
- Pembekuan sperma untuk penggunaan di kemudian har
Biasanya diputuskan oleh dokter andrologi/urologi setelah evaluasi hormonal, USG, dan pemeriksaan semen.